AS Kian Dekat Dengan Kebangkrutan, Bursa Asia Berjatuhan Lagi

Pialan di pasar saham Asai

Mayoritas bursa Asia-Pasifik kembali dibuka melemah pada perdagangan Kamis (25/5/2023), di mana investor masih mencerna pembahasan terkait plafon utang Amerika Serikat (AS) dan risalah rapat FOMC.

Per pukul 08:30 WIB, hanya indeks Nikkei 225 Jepang yang berhasil menguat yakni sebesar 0,19%.

Sedangkan sisanya kembali terkoreksi. Indeks Hang Seng Hong Kong merosot 0,97%, Shanghai Composite China https://cicakrowoh.shop/ melemah 0,21%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,54%, ASX 200 Australia terpangkas 0,87%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,45%.

Dari Korea Selatan, bank sentral (Bank of Korea/BoK) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5%, di mana suku bunga BoK telah dipertahankan selama tiga bulan beruntun.

Keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar dalam survei oleh Reuters yang memperkirakan BoK akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya.

Gubernur BoK, Rhee Chang-yong pada awal bulan ini mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk membahas penurunan suku bunga, mengutip tingkat inflasi di negara yang masih di atas target BoK sebesar 2%.

BoK diperkirakan akan mulai memangkas suku bunga acuannya awal tahun depan.

“Ada beberapa tanda bahwa (ekspor) telah mencapai titik terendah dalam hal kontraksi, tetapi dalam hal pemulihan, kami tidak memperkirakan hingga kuartal keempat tahun ini, oleh karena itu mengapa kami memiliki pandangan yang lebih bearish untuk pertumbuhan daripada lainnya,” kata Juliana Lee, Kepala Riset Ekonomi Asia-Pasifik Deutsche Bank mengatakan kepada CNBC “Squawk Box Asia.”

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi di tengah koreksinya kembali bursa saham AS, Wall Street kemarin, karena investor mencerna dari hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan masih mencerna terkait buntunya pembahasan plafon utang AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,77%, S&P 500 terkoreksi 0,73%, dan Nasdaq Composite terpangkas 0,61%.

Melansir Reuters, negosiator dari kedua belah pihak, antara Presiden AS Joe Biden dan Ketua DPR AS Kevin McCarthy, diharapkan akan bertemu lagi pada hari Rabu pagi waktu AS.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen sebelumnya telah memperingatkan para anggota parlemen bahwa potensi gagal bayar pada awal Juni “sangat mungkin terjadi.”

McCarthy mengatakan dia telah melakukan diskusi “produktif” dengan Presiden Biden pada Senin lalu.

Namun demikian, tidak banyak indikator kemajuan yang terlihat dalam negosiasi pada Selasa.

“Bahkan jika pejabat Washington menaikkan batas utang, pasar dapat mengalami tekanan,” kata Bill Merz, kepala riset pasar modal di U.S. Bank Wealth Management kepada CNBC International.

Itu karena Departemen Keuangan AS akan perlu menerbitkan banyak surat utang untuk membayar bunga utang atau pokoknya.

“Dampaknya kemungkinan akan mengurangi likuiditas dari pasar modal secara umum,” kata Merz.

Selain soal pagu utang, investor merespons dari risalah rapat FOMC The Fed pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Risalah rapat tersebut menunjukkan bahwa para pejabat The Fed masih memiliki pandangan yang berbeda mengenai suku bunga. Pejabat The Fed masih terbelah antara yang menginginkan kenaikan suku bunga secara perlahan dan yang ‘ngotot’ menaikkan suku bunga secara agresif.

Sejumlah pejabat The Fed ‘ngotot’ menginginkan kenaikan karena mereka melihat inflasi masih panas. Risalah tersebut akhirnya menghilangkan kalimat “tambahan kenaikan yang lebih tegas mungkin dibutuhkan”.

The Fed lebih memilih untuk mempertimbangkan data baru untuk menentukan apakah kenaikan suku bunga akan berlanjut.

“Partisipan secara umum tidak yakin melihat seberapa ketat kebijakan yang dibutuhkan dan yang pantas,” tulis risalah FOMC.

The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 500 basis poin (bp) menjadi 5,0-5,25% sejak Maret tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*